**SELAMAT DATANG DI BLOG KEDAMAIAN**
MENCERAHKAN DAN HUMANIS
Thursday, October 30, 2008
Melepas Kepergian Sang Pahlawan

“Roland, maaf saya tidak banyak membantu kamu.” Inilah kata-kata Bapak Slamet Sholeh di malam acara Launching Buku dan Pentas Seni dalam rangka 10 Tahun IKBAL Korda Kairo, tepatnya di tahun 2005 yang lalu. Dan jujur saja, sampai saat inipun saya masih ingat betul kata-katanya itu, tidak terlupakan. Kata-kata itu begitu saja tergiang di telinga setiap kali saya bertemu dengannya. Hal itu dia utarakan kepada saya karena bantuan yang diberikannya tidak dapat menutupi kekurangan anggaran yang telah ditetapkan panitia. Namun secara pribadi saya cukup memaklumi, sebab pada waktu itu KBRI memang sedang mengalami goncangan keuangan amat serius. Dan paling tidak, kehadirannya di acara itu sedikit banyak telah mengobati kekecewaan kawan-kawan IKBAL secara umum.

Bersahaja. Itulah mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan penampilannya—kendati tidak ditopang kemampuan retorika memukau layaknya KH. Zainuddin MZ—setiap kali diundang menjadi pembicara di berbagai acara yang dilaksanakan para mahasiswa/i terkait masalah pendidikan, atau di berbagai acara apresiasi karya torehan tangan-tangan kreatif Masisir. Sungguh, betapa kehadirannya di tengah-tengah Masisir telah memunculkan secercah harapan ke arah perubahan.

Makanya tidak salah bila kemudian banyak kalangan yang berpendapat bahwa karir diplomatik Pak Slamet di Kairo terbilang cukup berhasil. Kemampuan manajemennya, kepribadiannya yang kharismatik, keramahan serta sikapnya yang bersahabat, itulah yang mampu “menyihir” perhatian Masisir yang tengah menimba ilmu di negeri Kinanah ini.

Sebagai pengganti Bapak Dr. M. Nur Samad Kamba, MA, semula memang banyak orang yang menganggap bahwa upaya Pak Slamet dalam membangkitkan semangat akademis Masisir nantinya akan menuai kegagalan. Sebab, di samping tidak lahir secara langsung dari rahim Masisir, juga pengetahuannya tentang kehidupan Masisir sangat kurang. Namun dia acuhkan saja anggapan negatif itu. Justru di dalam jiwanya tertanam kuat sebuah motivasi membela kepentingan akademis bagi sebuah gerakan kemahasiswaan yang mendesakkan perubahan berarti.

Posisinya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan telah menuntutnya menjadi mediator antara KBRI dan para mahasiswa/i, yang secara implisit berupaya menjelaskan berbagai kebijakan baru pendidikan yang dirasa dan nampak kurang sesuai dengan kondisi berikut kultur mereka.

Dalam sebuah dialog yang diadakan FOSGAMA dua tahun yang lalu, dia mengaku bahwa hidup di tengah-tengah Masisir telah membuka matanya. Dia melihat kesenjangan begitu lebar antara kualitas para pelajar Indonesia di Timur Tengah, khususnya di Mesir—terlebih sekali mereka yang kuliah di al-Azhar—, dan Eropa, terutama bila dipandang dari kontribusi dan sepak terjang dalam kancah nasional di tanah air tercinta.

Dia sangat menginginkan kualitas akademik Masisir mengalami peningkatan, bukan malah sebaliknya. Dari itu, menurutnya, perlu dilakukan dekonstruksi paradigma kebijakan tentang pendidikan. Dengan kata lain, bagaimana agar Masisir sebagai komunitas pelajar tidak lagi mengingkari pentingnya belajar guna meraih prestasi akademik yang gemilang.

Maka demi mewujudkan keinginannya itu, berbagai kegiatan yang mendukung pendidikan kemudian digalakkan. Seminar, dialog dan diskusi tentang pendidikan marak di mana-mana. Dan dia sendiri sangat aktif turut andil di dalamnya, baik sebagai pemberi dana atau sebagai penyumbang ide. Setiap ceramah yang disampaikannya sedemikian sarat dengan motivasi-motivasi akademik.

Untuk itulah, Arus Kampus, yang merupakan sebuah kelompok mahasiswa/i yang secara khusus menaruh perhatian terhadap pendidikan Masisir, dengan jargon populernya “Back to Campus”, menobatkannya sebagai motivator akademik di tahun 2007 yang lalu.

Ya, Pak Slamet telah berhasil membuktikan dirinya sebagai sebuah lentera harapan. “Bahkan dalam situasi sesulit apa pun, kalian bisa mencapai prestasi paling tinggi dengan tekat kuat dan kerja keras,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan para hadirin waktu itu.

Dan tak dikira ternyata tulis-menulis adalah bidang lain yang tidak dapat dinafikan dari ruang gerak kehidupannya, yaitu sebagai bagian dari upaya untuk mengukuhkan eksistensi diri agar tidak lenyap dari peredaran. Buku Cairo-Cairo, bagian I dan II, telah menghantarkan dirinya memperoleh anugerah legitimasi sebagai salah seorang penulis yang hebat. Lebih dari itu, kandungan buku tersebut memperlihatkan sosok Pak Slamet yang sangat peduli terhadap lingkungan sekitar.

Selain mahir menggerakkan tangan dinginnya di dalam dunia tulis-menulis, seni pun rupanya bukanlah bidang yang asing baginya. Jari-jarinya begitu piawai memainkan gitar. Saya sendiri beberapa kali mendapat kehormatan untuk tampil satu panggung dengannya di Balai Budaya KBRI, yaitu di acara-acara malam pisah sambut yang biasa diadakan dalam rangka melepas kepergian salah seorang diplomat yang telah menyelesaikan masa tugasnya di Kairo sekaligus menyambut kedatangan penggantinya dari tanah air.

Demikianlah kenyataannya, Pak Slamet memang banyak memiliki keistimewaan, sehingga wajar bila Masisir menjadi terkesima karenanya. Dia benar-benar patut menjadi teladan yang bisa dibanggakan oleh Masisir secara keseluruhan.

Percaya atau tidak, Pak Slamet benar-benar menghargai kreativitas para mahasiswa/i yang sebelumnya kurang mendapat perhatian yang cukup. Keberadaannya di Kairo menjadi salah satu faktor menanjaknya semangat akademik dan maraknya aktivitas seni di kalangan Masisir.

Takkan selamanya tanganku mendekapmu, takkan selamanya raga ini menjagamu, seperti alunan detak jantungku tak bertahan melawan waktu…tak ada yang abadi…jiwa yang lama segera pergi, bersiaplah para pengganti,” demikianlah bunyi lagu teranyar Peterpan, Tak Ada Yang Abadi. Kini masa jabatan Pak Slamet di Kairo sudah berakhir. Dan itu artinya, tidak lama lagi dia akan meninggalkan kita semua. Sebagai orang-orang yang pernah merasa dibelanya tentu kita merasa sedih. Belum cukup rasanya kebersamaan kita dengannya.

Selamat jalan Pak Slamet. Bagi kami Bapak adalah pahlawan sejati yang tidak pernah letih memperjuangkan hak-hak kami sebagai pelajar di negeri yang tandus ini. Meski semua telah berlalu, tetapi kami berjanji tidak akan membiarkan hujan menghapus jejak Bapak, sebagaimana tidak akan kami biarkan Kairo menjadi kota mati. Biarlah hari yang cerah tetap setia menemani kami, secerah hari-hari kebersamaan kami dengan Bapak. “Berjalanlah…ambil cahaya cinta tuk terangi jalanmu, di antara beribu lainnya kau tetap benderang.” (Peterpan, Walau Habis Terang)
 
posted by Roland Gunawan at 3:46 AM | Permalink |


0 Comments:





"TERIMA KASIH ANDA TELAH MAMPIR DI SINI"