**SELAMAT DATANG DI BLOG KEDAMAIAN**
MENCERAHKAN DAN HUMANIS
Monday, March 27, 2006
Ramadlan Karim
Ramadhan…………….
Kau bulan yang agung, penuh rahmah,
Barakah dan hikmah.
Kau bulan penuh kedamaian
Karenamu para syetan dibelenggu dengan
Ditutupnya pintu-pintu neraka.
Karenamu segala kebaikan disebar seiring dengan
Terbukanya pintu-pintu syurga,
Demi menyambut kedatanganmu.

Di dalammu manusia banyak sadar akan kelemahan,
Seraya minta ampun atas segala kesombongan.
Di malam harimu manusia pada tengadah
Meminta tambahan rizqi kepada Allah.
Di dalam rahimmu pulalah semua manusia
Pada bungkam karena takut akan tindakan-Nya.
Oh, begitu indah............................

Di bulan yang mulia ini, tiada sesuatu yang lebih pantas kita ungkap dengan penuh kerendahan hati kecuali rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Maha Agung atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita. Sehingga untuk yang kesekian kalinya kita bisa menginjakkan kaki di bulan suci Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan berkat.
Ramadhan in Egypt itulah kiranya cita-cita yang ingin kita rasakan sebelum sampai di bumi kinanah ini. Dan sekarang kita telah merasakan suasananya, bahwa ternyata datangnya bulan Ramadlan yang diyakini sebagai bulan suci oleh seluruh umat Islam ini, mendatangkan pengaruh begitu besar bagi masyarakat Mesir.

Siang hari, di saat kita sedang menunaikan ibadah puasa, rasa-rasanya seperti bukan puasa saja. Lapar dan haus tidak begitu mencekik. Sebab waktu puasa di Mesir ini boleh dibilang relatif lebih pendek, jam 05:20 kita sudah bisa berbuka. Apalagi memang rata-rata kita (masiko) adalah termasuk orang-orang yang selalu Ihya'ul lail atau ngidupin malam. Ihya'ul lail di sini maksudnya bukan apa-apa, melainkan begadang semalam suntuk (sahiral layali) sampai tiba waktu makan sahur dan sholat shubuh. Lepas itu langsung tancap gas berlomba dengan terbitnya mentari menuju ke "alam mimpi" alias tidur. Tidur di sini pun tidak tanggung-tanggung, bangun tidur yang paling ekspres adalah jam 10:00 atau paling-paling pas datangnya sholat dzuhur, itupun kalau sempat dengar azan, wa illa fala. Malah ada yang lebih parah lagi (asyaddu min dzalik), seharian penuh tidur nggak bangun-bangun (la yakum yakum), pas lagi bangun, eh…tahu-tahu udah azan maghrib, tanda bahwa waktu makan sudah tiba.

Di lain pihak, ada sesuatu yang menarik dan boleh dibilang paling istimewa yang diadakan, terutama sekali oleh kaum dermawan Mesir yaitu Ma'idatur Rahman (rumah makan Tuhan) atau buka puasa bersama. Hampir di seluruh masjid yang ada di Mesir (atau bahkan mungkin semuanya) mengadakan buka puasa bersama. Ini marak sekali dan banyak peminatnya, tanpa terkecuali Masiko-Masisir.

Pada sore hari kira-kira jam 05:00, beramailah kita mendatangi masjid-masjid terdekat, ada yang jalan-jalan terlebih dahulu, kalau istilah maduranya kita kenal dengan Nyare malem. Baru setelah azan maghrib berbunyi, kita lalu ke masjid untuk melepas lapar dan dahaga. Biasanya makan bersama itu dilakukan sehabis sholat maghrib atau sebaliknya. Dan tradisi buka bersama ini berlangsung setiap hari selama bulan Ramadhan. Bagi kita (masiko) ini merupakan keberuntungan, sebab rata-rata dari kita selalu ingin yang serba gratis (balasy). Kita tidak usah capek-capek masak, hitung-hitung untuk ngirit pengeluaran. Namun walaupun demikian, ternyata masih ada yang belum puas. Katanya " kenapa kok hanya buka puasa bersama yang diadakan, sedangkan sahur bersama kok tidak?". Kemudian ada yang nyeletuk "Emangnye bokap lho yang ngadain?"

Selepas sholat dan buka puasa, kita banyak disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang baca Al-Qur'an, nyantai, ngelamun dll. Tatkala adzan isya' mulai berkumandang, kita menyiapkan diri untuk pergi ke masjid guna melaksanakan ritual selanjutnya, yaitu sholat Tarawih. Dalam pelaksanaan sholat Tarawih, para masiko macam-macam. Setidaknya dibagi menjadi dua. Pertama, orang-orang yang tulus. Biasanya orang-orang ini kalau mau tarawih hanya mendatangi masjid-masjid terdekat saja, tanpa diembel-embeli niat yang neko-neko, pokoknya Lillahi ta'ala gitu, walau pun kadang agak terlambat datangnya. Namun ini masih lebih mending ketimbang orang yang tidak tarawih sama sekali. Pepatah mengatakan "Lebih baik terlambat (sedikit) daripada tidak sama sekali".

Kedua, orang-orang yang enggak tulus. Bagian yang ini niatnya macam-macam. Ada yang berniat mau cuci mata, ada pula yang berniat hanya sekedar nyari keberuntungan yang lebih kita kenal dengan istilah door prize. Bagi yang niatnya untuk cuci mata biasanya sholat tarawih di masjid Nurul Khithob, kenapa? Karena di sana banyak cewek Mesir yang cakep-cakep berseleweran, ditambah dengan cewek-cewek Turki yang aduhai. Tidak ketinggalan pula tentunya para mahasiswi Indonesia yang katanya rasa cokelat.

Sementara itu bagi yang niatnya mencari door prize, seperti biasa mereka tarawih di masjid SIC. Menurut isu yang lagi berkembang hangat di tengah-tengah masiko, bagi orang yang beruntung pada malam itu akan mendapatkan duit sebesar 10 Dollar. Lumayan kan? Apa lagi transportasi ke sana memang tidak harus membobol dompet alias tidak usah bayar dengan adanya mobil jemputan PP. Gimana, apakah anda tidak tertarik?.

Namun, terlepas apakah itu tulus atau tidak, kita anggap saja itu merupakan suatu hal yang positif, sebagai serba-serbi masiko dalam menyemarakkan datangnya bulan suci Ramadhan yang mempunyai nilai-nilai tersendiri dan sebagai motivasi awal demi terwujudnya reformasi jiwa yang menjadi angan-angan setiap orang yang berpuasa.

Di atas telah disebutkan bahwa di Mesir ini ada sebuah tradisi yang telah berlangsung sejak lama dan mungkin merupakan ciri khas tersendiri bagi masyarakat negeri seribu menara ini yaitu Ma'idatur Rahman. Tradisi ini jarang sekali kita temukan di negeri kita. Toh kalaupun ada, itupun hanya terbatas pada masjid-masjid terkenal saja. Misalnya di masjid Istiqlal, MAS dll. Kemudian ada juga di rumah orang-orang kaya, walaupun itu hanya untuk selamatan saja. Dan ingat, ini hanya untuk satu kali saja dalam sebulan.

Sedangkan di Mesir, itu berlangsung selama satu bulan penuh dan tidak pernah telat. Yang menarik adalah bahwa Ma'idatur Rahman ini hanya diadakan di masjid-masjid. Jadi para dermawan di sini menyisihkan sebagian dari harta mereka (yunfiquna nin amwalihim) ke masjid-masjid secara gotong-royong. Kalau di masjid Musthafa yang ada di daerah Yusuf Abbas, itu yang menanggung (donatur) hanya seorang saja. Dan ini mungkin terbesar di daerah Kairo. Bayangkan saja, dia sanggup memberi makan ribuan orang setiap hari selama bulan Ramadhan dengan pelayanan yang boleh dibilang memuaskan, dijamin langsung kenyang. Betapa kayanya dia. Sementara kalau dibanding Tanri Abeng-nya Indonesia yang gajinya 1 Milyar, dia saja tak pernah ngadain gitu-gituan. Jangankan dia, Pak Harto sekalipun yang kekayaannya melebihi 1 Triliun plus kekayaan anak-anaknya saja tidak mampu. Tapi kalau dilihat sebenarnya bukan tidak sanggup, melainkan takut kehilangan.

Tradisi semacam ini merupakan sesuatu yang sangat agung dan mulia. Di tengah krisis ekonomi yang sedang melanda dan kondisi politik yang carut-marut, ternyata mereka (jutawan-jutawan Mesir) sanggup melakukan sesuatu yang luar biasa. Belum lagi kafalah-kafalah dalam bentuk sembako ataupun uang. Pantas saja kiranya kalau bulan puasa di sini dikenal dengan Ramadhan Karim (Ramadhan yang mulia). Karena memang membawa dampak yang begitu kuat dalam diri penduduk di sini. Sehingga melahirkan prilaku-prilaku mulia.

Kalau di tengah jalan kita menemui dua orang yang sedang bertengkar, kemudian ketika mendengar orang lain berteriak "Ramadhan karim", secara spontan tanpa banyak bachot, aktivitas tengkar itu terhenti. Di masjid-masjid kita temui banyak orang yang sedang khusyuk beri'tikaf. Dan masih banyak lagi pengaruh yang ditimbulkan oleh puasa.

Baiknya bagi negara kita belajar dari Mesir yang tidak terlalu muluk-muluk dalam menyambut bulan puasa, akan tetapi mendatangkan kesan yang sangat mendalam. Di Indonesia dalam menentukan tanggal satu Ramadhan saja sudah sibuk dengan perdebatan, bahkan sering kali terdapat perbedaan. Kalau daerah itu puasanya hari itu, maka daerah yang lain puasanya hari ini. Belum lagi perbedaan dalam melaksanakan hari raya Iedul Fitri.

Kiranya penulis tidak perlu lagi menjelaskan bagaimana kondisi tanah air kita dalam menyambut Ramadhan. Tentunya para pembaca semua sudah tahu akan hal itu dan dapat mengadakan perbandingan dengan kondisi di sini. Akhir kata saya ucapkan" Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga amal baik kita diterima oleh Allah SWT." Amien…
 
posted by Roland Gunawan at 4:27 AM | Permalink |


0 Comments:





"TERIMA KASIH ANDA TELAH MAMPIR DI SINI"